Musik sebagai Cermin Moralitas Masyarakat

Sudah sama-sama kita ketahui,
Karya-karya musikal tanah air dewasa ini, tertelantarkan.
Sebab apresiasi masyarakat terhadap karya musik, setara dengan nilai makan gratisan.
Artinya, mereka ingin mempunyai lagu premium dengan cara gratis.

Ironisnya, penggila gratisan itu mayoritas justru berasal dari kalangan menengah ke atas dan kawula muda.
Bermodal pulsa paket internet dan gadget, dg merasa tidak bersalah mereka membabat habis lagu-lagu ilegal di dunia maya.

Akibatnya, para musisi menjadi frustasi.
Mereka merasa, kreatifitasnya diludahi banyak orang.
Sehingga mereka, terancam gantung kreatifitas.
Sebab lagu-lagu yg menjadi ladang mata-pencaharian mereka, disikat orang lain; dicolong publik.

Segaris dengan yg terjadi dalam industri musik tanah air.
Dunia perindustrian musik kita, hampir menemui kiamatnya.
Karena aktifitas pembajakan publik, lebih besar dibanding penjualan resmi karya fisik musik.
Artinya, barang bajakan lebih laris dibandingkan dengan barang asli.

Padahal, membajak itu artinya mencuri.
Membajak, adalah menggandakan file tanpa seizin dari pemilik asli file tersebut.
Entah membajak dengan tujuan komersil atau konsumsi pribadi, tetap saja akan merugikan pemilik resmi file atau lagu.

Lagipula, Undang-undang perlindungan hak cipta, sudah gamblang.
Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), telah mengeluarkan fatwa HARAM terhadap aksi pembajakan.
Namun virus pembajakan karya cipta, bukannya berkurang tapi malah semakin mewabah.

Pertanda apakah ini?

Mr.Paijo

Dikirim menggunakan Wordmobi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s